Wafatnya Ninikda
Pada senja 1 September 2011 M, saat langit terhampar dalam perpaduan merah jingga yang memukau. Mentari siap tenggelam membawa malam sesudah sepanjang hari menyinari dunia dan isinya, seiring dengan kabar pamitnya seorang insan mulia, sang bintang pejuang yang samar-tersembunyi keistimewaannya, untuk pergi selamanya. Takhbir tersebut menghadirkan kesedihan mendalam bagi para murid dan jamaahnya. Namun, di sisi lain, terbayang kepergiannya dengan wajah senyum bahagia, karena sebentar lagi akan bertemu dengan kekasihnya, Tuhan Sang Pencipta. Seperti senja yang merindukan kedatangan sang malam. Tak ubahnya seperti orang yang berpuasa sunnat Syawal hari itu, kamis 2 Syawal 1432 H yang gembira menanti lantunan Adzan Magrib
Sebelumnya, pada siang hari menjelang sore, sang Bintang Samar itu tengah duduk di atas sofa ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram sambil menikmati buah pepaya. Di ruang luar (lobi), banyak para murid dan jamaah berdatangan untuk menjenguknya. Seorang cucunya, Ibkar, masuk ke ruang rawat inap mengabarkan, bahwa ada jamaah yang datang menjenguk. "kah tangketin na julu lek luar anta" [Kamu bersamai mereka di luar], jawab sang Bintang (Ninik). Lalu, Ibkar meninggalkan Ninik, keluar menemani para jamaah.
Kurang lebih, 10-15 menit kemudian, Ninik memanggil Ibkar untuk masuk. Ibkar bergegas masuk menemuinya dan duduk di lantai menghadap Ninik yang tengah duduk di sofa. "ngne pe nengku gitak anta ka"[begini, saya mau bicara sama kamu], ucap Ninik. Itu pembuka pembibacaraan yang biasa dipakai Ninik apabila ingin berbicara yang serius dan penting kepada Ibkar. “nggih, napi?” [Ya, ada apa?]. "ku njulu ulek aku, anta mudian, atong-atong be aku" [Saya duluan pulang, kamu belakangan, antar saja saya], jawab Ninik.
Kemudian Ninik langsung bangkit berdiri, Ibkar cepat-cepat ambil infus sambil memapah Ninik, perkiraan Ibkar Ninik mau keluar, tetapi ternyata, beliau melangkah menuju tempat tidur. Setelah Ninik berbaring, Ibkar berniat ingin keluar menemui tamu di luar lagi. Namun, wajah Ninik terlihat sangat pucat, akhirnya Ibkar mengurungkan niatnya untuk keluar. Dia naik ke sisi kiri Ninik. Selanjutnya, petugas medis datang memeriksa, petugas berkata, biarkan dia istirahat dulu. Berselang waktu tidak lama, wajah Ninik kembali segar.
Sesaat ada niat Ibkar mau menelpon H. Sahabudin, Sahabat Ninik yang dari sekarbela dan dekat sekali dengan keluarga Ninik di Sekarbela Mataram. Ibkar menelponnya supaya segera ke Rumah Sakit. Namun di saat Ibkar mau beranjak turun dari tempat tidur, Ninik mencengkeram baju Ibkar. Lagi-lagi Ibkar mengurungkan niatnya, Dia kembali mengangkat kepala Ninik, memangkunya dengan tangan. Selanjutnya tangan Ninik menarik rambut Ibkar mendekat ke arah mulut Ninik, Beliau menyebut nama TGH. RUSLAN ZAIN untuk membacaakan talqin nantinya. Dengan berat hati Ibkar menjawab "nggih" [Ya]. Sejak saat itu Ibkar memahami bahwa Ninik akan segera pergi. Selanjutnya terucap dari mulut Ninik yang suci Kalimat Syahadat dituntun dengan cucunya, Ibkar yang selalu setia membersamainya. Tubuh beliau mulai terasa dingin… dan… dan…. Itulah ucapan terakhirnya di dunia ini, kalimat Syahadat dalam hembusan nafas terakhir. 138
Itulah Detik-detik Husnul Khotimah Guru Kita, seorang yang Alim lagi berkehidupan sederhana. Sang Bintang Samar, Seorang Pejuang yang tersembunyi keistimewaannya. Rupanya, ada mubassyirat datang sebelumnya, dia sudah tahu akan meninggalkan dunia yang fana' ini pada hari itu. Dia mengatakan, “Saya duluan pulang, kamu belakangan, antar saja saya”. Artinya dia berpamitan duluan pulang menghadap kekasihnya, Allah
SWT.
Itulah peristiwa wafatnya Ninikda TGH. Muh. Shaleh Ahamd yang kemudian dimakamkan keesokan harinya Jum’at 2 September 2011 di Kubur Baqiul Garqad Kalijaga, dalam usia 87 tahun (1924-2011). Wafatnya menyisakan kesedihan yang mendalam di hati jamaahnya, terutama di kalangan Darussholihin dan Jamaah NW. Ribuan jamaah yang hadir mensholatkan janazah beliau tidak bisa tertampung di Masjid al-Ittihad Kalijaga. Terpaksa, sholat jenazah dilaksanakan dengan 38 gelombang. Lautan manusia yang ikut memakamkan sebagai bukti keikhlasan hati beliau di saat hidup dalam berjuang dan mengajarkan jamaah nilai-nilai agama, serta menunjukkan betapa besar pengaruh dan penghargaan yang dimiliki Ninik di mata jamaahnya.
Salinan dari Buku "Pancaran Sinar Cinta Ninikda" (Pra Penerbitan)


Komentar
Posting Komentar