Pada senja 1 September 2011 M, saat langit terhampar dalam perpaduan merah jingga yang memukau. Mentari siap tenggelam membawa malam sesudah sepanjang hari menyinari dunia dan isinya, seiring dengan kabar pamitnya seorang insan mulia, sang bintang pejuang yang samar-tersembunyi keistimewaannya, untuk pergi selamanya. Takhbir tersebut menghadirkan kesedihan mendalam bagi para murid dan jamaahnya. Namun, di sisi lain, terbayang kepergiannya dengan wajah senyum bahagia, karena sebentar lagi akan bertemu dengan kekasihnya, Tuhan Sang Pencipta. Seperti senja yang merindukan kedatangan sang malam. Tak ubahnya seperti orang yang berpuasa sunnat Syawal hari itu, kamis 2 Syawal 1432 H yang gembira menanti lantunan Adzan Magrib Sebelumnya, pada siang hari menjelang sore, sang Bintang Samar itu tengah duduk di atas sofa ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram sambil menikmati buah pepaya. Di ruang luar (lobi), banyak para murid dan jamaah berdatangan untuk menjenguknya. Seorang...
Komentar
Posting Komentar